Kamis, 22 November 2012

Terapi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)


Selasa (16/10) sekitar pukul dua belas siang, terlihat anak-anak bersama orangtuanya berkumpul di Rumah Pintar RW 08 H. Gandun, Lebak Bulus Jakarta Selatan. Hari ini merupakan jadwal Terapi bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Terdengar suara terapis Bapak Yeyen dan Ibu Riri menyapa anak-anak. Senyum ceria terlihat dari semua orang yang datang pada hari ini. Terapi ini memang rutin dilakukan sekitar 7 bulan terakhir oleh Yayasan Panti Nugraha. Kegiatan terapi ini rutin dilakukan setiap hari Senin, Selasa dan Kamis mulai pukul 12.30 s/d 16.00 WIB. Lama terapi setiap harinya berbeda-beda sesuai dengan banyak anak yang datang, karena anak yang mendapatkan terapi masuk bergantian. Terapi ini dikhususkan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti Down Syndrome (keterbelakangan fisik dan mental), Low Vision (daya tajam penglihatan yang sangat rendah, lebih rendah dari daya tajam penglihatan normal kerena kerusakan pada fungsi penglihatan), Cerebral Palsy (disfungsi otak), tuna rungu (ketidakmampuan seseorang untuk mendengar suara), dan kecerdasan dibawah rata-rata. Saat ini ada sekitar 10 orang anak baik anak dampingan  (CN) maupun sibling (kakak/adik) anak dampingan. “Untuk kedepan, ada tambahan 3 orang anak lagi yang mengikuti terapi ini. Jadi berjumlah 13 orang anak, 9 orang CN dan 4 orang anak sibling”, ungkap Ibu Tatik yang mendampingi Terapi tersebut.


Terapi ini meliputi Terapi Wicara dan Terapi Okupasi. Terapi Okupasi menyangkut Terapi Motorik Halus dan Terapi Motorik Kasar. Kegiatan terapi yang dilakukan yaitu menulis atau menebalkan huruf dan lingkaran, mewarnai, menyamakan angka, menyusun balok atau puzzle, terapi bicara dan masih banyak lagi sesuai kebutuhan anak. “Saya tidak menargetkan terlalu tinggi kepada anak-anak ini, anak-anak ini diajarkan dari hal yang paling sederhana. Saya hanya berharap, anak-anak ini bisa membantu dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan primernya saya rasa sudah cukup baik, seperti memakai baju sendiri, mandi sendiri, maupun mengambil makan sendiri”, ungkap Bapak Yeyen salah satu terapis.

“Sejauh ini sekitar 6 bulan terakhir semenjak mengikuti terapi, sudah ada perubahan pada anak saya. Anak saya (Abdul Azis, 6 tahun) sudah mengucapkan sedikit ucapan walaupun belum jelas. Sudah bisa lebih tenang dari sebelumnya, padahal dahulu anak saya sangat Hyperaktif walaupun terkadang masih sulit menangani ke-hyperaktifan dia”, ucap Ibu Janiyah, salah satu anak terapi yang mengalami tuna rungu. “Anak saya Rabi juga sudah sedikit mengeluarkan kata-kata walaupun tidak jelas, seperti mengucap kata abi. Senang melihat perkembangan abi saat ini, karena dengan terapi ini abi bisa terbantu”, ucap Ibu Siti Khodijah salah satu anak terapi yang mengalami Down Syndrome.

“Saya merasa lebih tertantang mendampingi terapi disini karena biasanya saya mendampingi terapi hanya terfokus pada satu kebutuhan khusus saja. Tetapi disini semua ada. Kita sebagai terapis tidak boleh memaksakan sesuatu kepada anak. Apapun potensi anak, itu yang harus kita kembangkan agar anak bisa merasa nyaman. Dan saya sudah melihat banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak seperti Wahyu, ia sekarang sudah bisa bersepeda keluar lingkungan rumah. Menurut saya, keberanian dia sudah cukup baik”, ungkap Bapak Yeyen.

“Tidak ada istilah anak cacat atau kurang, karena dibalik itu ada kelebihan yang mungkin belum terlihat. Pada dasarnya Allah menciptakan semua makhluknya sempurna, jadi jangan pernah memandang kekurangan tersebut sebagai musibah tapi jadikan hal tersebut sebagai anugrah. Bahwa tidak semua orang tua sanggup menerima, dan merawat anak berkebutuhan khusus. Dia adalah kunci "surga" bagi kita yang tidak menyia-nyiakannya”, ungkap Ibu Mintari salah satu orang tua dari anak yang mengikuti terapi tersebut.
Jaga mereka, karena anak merupakan perhiasan berharga dalam keluarga. (intan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar